Antosan Sakedap, Nuju Nyandakan Gambar...!
Welcome !

Kejujuran adalah batu penjuru dari segala kesuksesan, Pengakuan adalah motivasi terkuat
Depan | Bukutamu | Peta Situs | Web Mail | Forum Diskusi | Kontak Kami

berita artikel
SMA Kosgoro Kuningan
Media Informasi SMA Kosgoro Kuningan
Jalan Aruji Kartawinata 119, Kuningan 45511, Telepon (0232) 871992, email: info@smakos-kng.sch.id, smakos_kng@yahoo.com
Web Links
Kumpulan Artikel
Download
Forum
Galeri
Kumpulan Berita
Member List
Events
Kata Mutiara

Ketahuilah, apapun yang menjadikanmu tergetar, itulah Yang Terbaik untukmu ! Dan karena itulah, Qalbu seorang pecinta-Nya lebih besar daripada Singgasana-Nya.


Pengantar

Facebook Guru
Facebook SMAKOS
Buku Materi Pelajaran
Blog Guru SMAKOS
Sejarah SMAKOS
Video HUT ke-34 2010
Video Perpisahan 8/9
Video Perpisahan 7/8
Video Marching Band 09
Video Drumband 2006
Video Perpisahan 9/10


Menu Sekolah

Profil
Visi Misi
Program Kerja
Prestasi
Fasilitas
Ekstrakulikuler
Siswa
Guru


Jajak Pendapat

Apakah Ujian Nasional Masih Harus di Laksanakan ??

Harus Dilaksanakan
Jangan di Laksanakan
Ragu-ragu
Tidak ada Pendapat

Tampilkan Hasil

Kategori Artikel

Manajemen Qolbu
Kisah-Kisah Islami
Sains dan Teknologi
Politik dan Ekonomi
Sejarah
Pendidikan
Basa Sunda
Umum


Kalender Kegiatan

08 September 2010

S S R K J S M
12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930


Pesan Singkat

tidak boleh mengirimkan pesan yang kurang baik *)

Tampilkan Semua
Tulis Pesan


Admin@Yahoo Messenger

awan965@yahoo.com

Statistik

Anda pengunjung ke : 220124 sejak September 2008

IP anda : 38.107.191.96
2 Pengunjung Online

User Sedang Online :


Form Masuk

Pengguna :
Sandi :

Artikel

5 Pebruari 2010, 05:39:10 oleh Admin
Kategori Kisah-Kisah Islami
Hikmah Jumat: Kisah Pencuci Piring

Bismillah,

Saya lupa darimana artikel ini saya dapatkan. Yang jelas bukan tulisan saya. Semoga berguna.

Siapa yang paling berbahagia saat pesta pernikahan berlangsung? Bisa jadi kedua mempelai yang menunggu detik-detik memadu kasih. Meski lelah menderanya namun tetap mampu tersenyum hingga tamu terakhir pun. Berbulan bahkan hitungan tahun sudah mereka menunggu hari bahagia ini. Mungkin orang tua si gadis yang baru saja menuntaskan kewajiban terakhirnya dengan mendapatkan lelaki yang akan menggantikan perannya membimbing putrinya untuk langkah selanjutnya setelah hari pernikahan. Atau bahkan ibu pengantin pria yang terlihat terus menerus sumringah, ia membayangkan akan segera menimang cucu dari putranya. “Aih, pasti segagah kakeknya,” impinya.

Para tamu yang hadir dalam pesta tersebut tak luput terjangkiti aura kebahagiaan, itu nampak dari senyum, canda, dan keceriaan yang tak hentinya sepanjang mereka berada di pesta. Bagi sanak saudara dan kerabat orang tua kedua mempelai, bisa jadi momentum ini dijadikan ajang silaturahim, kalau perlu rapat keluarga besar pun bisa berlangsung di sela-sela pesta. Sementara teman dan sahabat kedua mempelai menyulap pesta pernikahan itu menjadi reuni yang tak direncanakan. Mungkin kalau sengaja diundang untuk acara reuni tidak ada yang hadir, jadilah reuni satu angkatan berlangsung. Dan satu lagi, bagi mereka yang jarang-jarang menikmati makanan bergizi plus, inilah saatnya perbaikan gizi walau bermodal uang sekadarnya di amplop yang tertutup rapat.

Nyaris tidak ada hadirin yang terlihat sedih atau menangis di pesta itu kecuali air mata kebahagiaan. Kalau pun ada, mungkin mereka yang sakit hati pria pujaannya tidak menikah dengannya. Atau para pria yang sakit hati lantaran primadona kampungnya dipersunting pria dari luar kampung. Namun tetap saja tak terlihat di pesta itu, mungkin mereka meratap di balik dinding kamarnya sambil memeluk erat gambar pria yang baru saja menikah itu. Dan pria-pria sakit hati itu hanya bisa menggerutu dan menyimpan kecewanya dalam hati ketika harus menyalami dan memberi selamat kepada wanita yang harus mereka relakan menjadi milik pria lain.

Apa benar-benar tidak ada yang bersedih di pesta itu? Semula saya mengira yang paling bersedih hanya tukang pembawa piring kotor yang pernah saya ketahui hanya mendapat upah sepuluh ribu rupiah plus sepiring makan gratis untuk ratusan piring yang ia angkat. Sepuluh ribu rupiah yang diterima setelah semua tamu pulang itu, sungguh tak cukup mengeringkan peluhnya. Sedih, pasti.

Tak lama kemudian saya benar-benar mendapati orang yang lebih bersedih di pesta itu. Mereka memang tak terlihat ada di pesta, juga tak mengenakan pakaian bagus lengkap dengan dandanan yang tak biasa dari keseharian di hari istimewa itu. Mereka hanya ada di bagian belakang dari gedung tempat pesta berlangsung, atau bagian tersembunyi dengan terpal yang menghalangi aktivitas mereka di rumah si empunya pesta. Mereka lah para pencuci piring bekas makan para tamu terhormat di ruang pesta.

Bukan, mereka bukan sedih lantaran mendapat bayaran yang tak jauh berbeda dengan pembawa piring kotor. Mereka juga tidak sedih hanya karena harus belakangan mendapat jatah makan, itu sudah mereka sadari sejak awal mengambil peran sebagai pencuci piring. Juga bukan karena tak sempat memberikan doa selamat dan keberkahan untuk pasangan pengantin yang berbahagia, meski apa yang mereka kerjakan mungkin lebih bernilai dari doa-doa para tamu yang hadir.

Air mata mereka keluar setiap kali memandangi nasi yang harus terbuang teramat banyak, juga potongan daging atau makanan lain yang tak habis disantap para tamu. Tak tertahankan sedih mereka saat membayangkan tumpukan makanan sisa itu dan memasukkannya dalam karung untuk kemudian singgah di tempat sampah, sementara anak-anak mereka di rumah sering harus menahan lapar hingga terlelap.

Andai para tamu itu tak mengambil makanan di luar batas kemampuannya menyantap, andai mereka yang berpakaian bagus di pesta itu tak taati nafsunya untuk mengambil semua yang tersedia padahal tak semua bisa masuk dalam perut mereka, mungkin akan ada sisa makanan untuk anak-anak di panti anak yatim tak jauh dari tempat pesta itu. Andai pula mereka mengerti buruknya berbuat mubazir, mungkin ratusan anak yatim dan kaum fakir bisa terundang untuk ikut menikmati hidangan dalam pesta itu.

Dibaca : 219 kali, Di Print : 2 kali, Di Kirim : 0 kali, Tampilkan Komentar [0], Beri Komentar


Kirim Ke Teman Cetak

Artikel yang Lain

Tatapan Cinta
Ibunda, Kenapa Engkau Menangis
Apa yang Kita Harapkan Ketika Orang Tua Meninggal Dunia
Ayah....Maafkan aku...
Aku Sangat Mencintai Ibu
HADIAH CINTA
KEHANCURAN BUMI TAHUN 2053? (TUBRUKAN DENGAN PLANET)
Ibu Dekat di Mata, Dekat di Hati dengan Si Buah Hati
Menembus SPMB dengan Jurus 3K
Semangkuk Bakmi

 
Depan Buku Tamu Webmail Kontak Kami Peta Situs Partner Admin
Powered By rohimatCMS - Dimodifikasi oleh Awan
SMA Kosgoro Kuningan
© Admin @ 2006-2008
Untuk tampilan terbaik gunakan resolusi 1024x768
Minimal Internet Explorer 4.0